Rauang Rakyat Indonesia (22/10), Dampak karhutla menyebabkan kualitas lingkungan menjadi tidak normal yang awalnya langit biru menjadi putih hingga kuning serta menganggu aktivitas bahkan kesehatan manusia. Terdata sudah ada manusia yang meninggal dunia akibat terhirup kabut asap pada 2026 ini.
Dampak negatif juga menyasar para
hewan yang justru menjadi korban pertama karena hutan yang dibakar adalah
habitat asli mereka.
Dilansir detik, saat
petugas dan regu pemadam sedang memadamkan karhutla di Kabupaten Kotawaringin
Timur, Kalimantan Tengah, mereka menemukan seekor ular sanca darah
atau dipong mati dalam keadaan terpanggang.
Laman mediatni-polri
melaporkan, petugas dan regu pemadam di Kabupaten Kotawaringin Timur menyatakan
bahwa satwa liar yang paling sering ditemukan mati terbakar adalah ular
meliputi sanca kembang, sanca borneo atau depung dan kobra raja.
1. 1. Sanca Kembang
Sanca Kembang adalah jenis ular
tak berbisa merupakan reptil asli Asia Tenggara tersebar di Indonesia,
Indochina, Malaysia dan Filipina. Sanca kembang memiliki panjang yang
mengesankan mencapai 7-9 m bahkan melebihi anakonda di sungai Amazon.
Sanca kembang nyaman di dalam air karena memberikan mobilitas yang cepat dengan berenang. Sanca kembang punya keunggulan lain yakni mampu memanjat pohon untuk jadi tempatnya berdiam. Sejumlah mangsanya di habitat meliputi burung, primata, babi hutan, rusa dan tikus.
2. Sanca Darah
Sanca darah tersebar secara alami di
Thailand, Malaysia dan Indonesia. Jenis habitatnya seperti hutan tropis,
rawa-rawa, lahan basah hingga perkebunan sawit. Sanca darah adalah predator
yang senyap, namun mematikan. Mereka tidak keberatan untuk menunggu mangsa di
lahan hutan selama berjam-jam. List mangsanya adalah mamalia kecil, burung dan reptil
lainnya. Hanya membutuhkan satu ekor tikus besar setiap tiga makan sudah cukup
buat sang ular dalam memenuhi kebutuhan makannya selama berhari-hari.
3. Sanca Borneo
Di pulau Borneo (Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam) terdapat ular endemik bernama sanca borneo atau depung. Sebenarnya sanca borneo awalnya adalah subspesies dari sanca ekor pendek sumatra. Namun, para ilmuwan seperti J. Scott Keogh, David G. Barker dan Richard Shine memutuskan mengakui spesies baru bernama sanca borneo pada 2011.
Sanca borneo rata-rata berukuran
4 kaki bahkan ada yang 7 kaki panjangnya. Beratnya sendiri mencapai 30 pon,
lho. Biasanya betina lebih besar daripada jantan.
Kulit sanca borneo biasanya berwarna coklat muda dengan bercak-cak coklat, memiliki kepala lebar dan lubang khusus di sepanjang hidupnya. Lubang-lubang tersebut membantu mereka merasakan panas dari hewan lain.
4. Kobra Raja
Semua
yang dibahas sebelumnya adalah sanca atau piton. Sekarang membahas kobra raja
sebagai ular berbisa yang sangat mematikan tersebar di hutan-hutan Asia Selatan
maupun Tenggara. Kobra raja adalah ular berbisa terpanjang di dunia dan menjadi
simbol penting dalam mitologi dan tradisi rakyat Myanmar, Sri Lanka dan India.
Kobra raja adalah reptil nasional India.
Kobra raja dapat menembakkan bisa dari
420-600 mg per gigitannya. Tentunya sangat mematikan bagi para mangsanya
seperti vertebrata kecil, kadal, burung, hewan pengerat, spesies ular lain
bahkan kanibal terhadap spesiesnya sendiri.
Meskipun dikenal sangat tangguh, kobra raja
tetap bisa takluk oleh manusia untuk diburu daging dan kulitnya hingga
dijadikan pengobatan tradisional. Ular ini juga mengalami perusakan habitat
hutannya dengan ditebang hingga dibakar.
Berdasarkan data yang didapat, banyak ular
yang teridentifikasi sebagai korban dari karhutla di Kalimantan, namun yang
baru teridentifikasi dengan jelas spesiesnya adalah 4 jenis ular.



